konsep stop dreaming start action part II
Kurang lebih satu tahun sebelum pemilu yang baru lalu, salah seorang politisi mengusung slogan “hidup adalah perbuatan”, yang tampak relevan dengan konsep stop dreaming start action yang banyak diusung oleh banyak orang, terutama para motivator untuk memotivasi diri mereka sendiri maupun orang lain. Akan tetapi, tampaknya masih banyak orang cukup percaya bahwa mimpi itu sebuah symbol yang menyenangkan banyak orang, dan sanggup merangkum dukungan, sedang perbuatan, jikalau positif tetapi dalam skala kecil akan dicibir, jika besar akan terlalu beresiko dan tidak menguntungkan.
Konsep stop dreaming stop action tampaknya tidak diikuti oleh para peserta pemilu. Banyak dari mereka yang mengusung janji janji surga, yang entah jika terpilih akan ditepati atau tidak. Mulai dari memakan nasi aking, sampai berpesta di pembuangan sampah untuk sebuah alasan keberpihakan pada rakyat sepertinya hanya menjanjikan sebuah mimpi pada rakyat akan potret pemimpin yang peduli. Sementara, serangkaian agenda positif justru kadang kalah oleh sebuah agenda negatif. Ketika itu semua terjadi, maka konsep ini menjadi tidak relevan mengingat betapa calon-calon pejabat dan pemimpin Negara ternyata adalah pemimpi.
Konsep ini stop dreaming start action menjadi makin ironis manakala kita harus menyaksikan betapa idealisme yang mereka usung ternyata hanya sebatas retorila. Ketika ternyata action mereka, kepedulian mereka hanya berlangsung lima tahun sekali. Maklum, di Indonesia, rakyat jadi bintang ketika music kampanye tiba.





Memang benar mas habibie, sepertinya para politikus lebih senang menggunakan konsep Start Dreaming Stop Action untuk membohongi public.